Pesona Masjid Tiban di Kabupaten Malang

Bagi anda yang tinggal di wilayah Jawa Timur, pastinya tidak asing dengan nama Masjid Tiban? Meskipun belum pernah kesana, saya yakin sudah familiar terlebih dahulu dengan namanya. Saya pun sudah lama mendengar kehebohan dan hembusan cerita mistik tentang Masjid Tiban. Namun di tahun 2016 ini, barulah saya mengunjungi Masjid Tiban yang terletak di Desa Turen Kabupaten Malang.

GPS yang saya setting memandu perjalanan saya menuju Masjid Tiban. Saya harus keluar melalui Kota Malang menuju Kabupaten Malang, sekitar 45 menitan dari kota. Saya masuk melewati jalan desa, kemudian diarahkan menuju gang sempit ke arah Masjid Tiban. Gang sempit tersebut hanya mampu menampung 1 mobil yang disekelilingnya dipenuhi dengan para penjual cinderamata.

Untuk parkir didalam masjid ini tidak dikenakan biaya sama sekali, saya hanya melaporkan nomor mobil, nama dan asal kota, lalu diberilah secarik kertas. Nantinya kertas tersebut akan ditukarkan lagi dengan karcis keluar. Sedangkan apabila parkir di area luar masjid atau halaman penduduk maka akan dikenakan parkir sekitar Rp. 5.000,-.

Ruang Informasi untuk mendapatkan karcis parkir

Satu kata yang terucap yaitu "Takjub" ketika berada di area Masjid Tiban. Bangunan masjid tampak megah dengan arsitektur dindingnya berwarna biru dan ornamen yang cantik. Sebelum menjelajah masjid yang berlantai 10 ini, saya terlebih dahulu menuju Masjid yang terletak tak jauh dari parkir mobil.






Setelah sholat, saya penasaran dengan asap yang mengepul berwarna kehitaman yang terletak bersebelahan dengan masjid tadi. Dalam hati "apakah ini dupa? Sesajen-kah? Atau......" saya bertanya-tanya dalam hati. Hingga seorang pria yang tanpa saya tanya mengatakan, "cuma bakar sampah kok mbak" hahahaha. Memang tempat pembakaran sampah tersebut terlihat aneh dengan tungku besar tinggi berwarna kehitaman. Sayang saya lupa mendokumentasikannya.

Saya mengunjungi Masjid Tiban ini pada hari Minggu. Meski bukan long weekend, jumlah pengunjungnya sangat banyak dan membludak. Memang sudah terlihat dari banyaknya bus pariwisata dan mobil pribadi, saya pun kesulitan untuk mendokumentasikan beberapa spot masjid yang cantik. Entahlah jika long weekend ramainya akan seperti apa?

Saya memasuki area lantai 1 dan 6 yang dipenuhi dengan pahatan batu aquarium, kolam renang mini dan kaligrafi, sedangkan lantai 7 -8 adalah pusat perbelanjaan, lalu 9 - 10 kita dapat melihat pemandangan Malang dari balkon di Masjid Tiban ini. Nah, ketika di lantai 5, saya memasuki lantai tersebut bertepatan dengan sholat ashar yang baru dikumandangkan pada pukul 16.00. Tak banyak yang berjamaah, saya menghitung hanya ada sekitar 15 orang. Rupanya bangunan yang berlantai 10 ini lebih tepatnya disebut dengan pondok pesantren, sedangkan masjidnya ada didekat parkiran tadi.





Mari kita membahas cerita mistiknya. Apakah benar masjid ini dibangun oleh jin? Cerita ini berhembus dikarenakan lokasi masjid Tiban yang berada di kampung penduduk dengan jalan yang sempit, lalu banyak masyarakat yang bertanya "Mungkinkah jalan sempit tersebut bisa dilewati dengan truk-truk berpasir, berbatu atau truk mixer yang berukuran besar?" dan tiba-tiba masjid ini sudah berdiri megah.

Kenyataannya Masjid Tiban ini dibangun oleh pengasuh pondok pesantren KH Ahmad Bahru Mafdlaludin sejak tahun 1978. Pembangunannya pun dilakukan tahap demi tahap hingga saat ini. Hingga saya datang kemarin, masih banyak sisi bangunan masjid yang masih belum jadi dan tidak bercat, bahkan saya melihat beberapa tukang bangunan asyik mengecat kubah. Sedangkan arsitektur dari bangunan Masjid ini adalah hasil dari istikharah pengasuh pondok pesantren. Pengelola Masjid Tiban pun menepis berita bahwa Masjid Tiban bukan dibangun oleh jin tapi dibangun oleh para jamaah, santri dan masyarakat sekitar.


A photo posted by Diarysivika (@diarysivika) on


Namun pesona Masjid Tiban sudah melekat menjadi Masjid yang dibangun sehari semalam oleh jin, hal tersebutlah yang kemudian menarik wisatawan berbondong-bondong menuju Masjid Tiban. Dari plat mobil saja saya sudah bisa melihat dari mana saja pengunjungnya, ada yang dari Madura, Pasuruan, Probolinggo, Jember dan beberapa kota lainnya.

Yang perlu digaris bawahi bahwa Masjid Tiban ini bukanlah tempat wisata, jadi selayaknyalah jika menuju ke sana memakailah baju sopan tertutup, berjilbab jangan kayak saya dan berbicaralah yang sopan. Kawasan Masjid Tiban merupakan wilayah pondok pesantren dan Masjid yang syarat akan religi.
A photo posted by Diarysivika (@diarysivika) on


Sebentar lagi memasuki bulan puasa Ramadhan, jadi buat anda yang belum ke Masjid Tiban dan penasaran berat akan arsitekturnya bisa segera mengunjungi masjid ini. Namun jangan hanya mengisinya dengan berfoto dengan menyebarkannya lewat social media saja. Sebaiknya perbanyaklah dengan beribadah seperti sholat, mengaji atau beritikaf dengan fokus menjalankan ibadah nanti di bulan Ramadhan.

Menjelang ramadhan tak ada salahnya untuk membeli perlengkapan ibadah agar lebih semangat menjalankan ibadah. Bukan untuk pamer, namun untuk memacu semangat beribadah dengan membeli pakaian muslim terbaru, aksesoris muslim, dan fashion terbaru.



Belinya dimana? Di Lazada.co.id donk. Sekarang di Lazada ada ramadhan festival yang terbesar di hari kemenangan dengan diskon hingga 80%. Tak hanya produk fashion tapi juga ada perlengkapan rumah tangga yang lengkap, bikin semangat untuk menyiapkan masakan sahur dan buka nih. Saya juga lagi mengincar pakaian gamis dan mukena buat saya dan si kecil. Enaknya kalo belanja online tuh kita tinggal duduk manis didepan laptop, memesan barang, bayar lalu barang dikirim kerumah.



Find Me
Masjid Tiban :

You Might Also Like

3 komentar

  1. pingin banget ke masjid Tiban, tapi belum kesampaian...

    ReplyDelete
  2. Aku sering ke sini, dari mulai masih sepi n belum sebagus sekarang, emang pembangunannya bertahap, gak percaya kalau tiba tiba ada..


    Paling suka belanja aksesoris di sini, murah-murah banget..

    ReplyDelete
  3. saya ke sini tahun 2014, pas rame pengunjung tapi masih banyak renovasi di sana sini
    khususnya di lantai atas

    ReplyDelete