Sebuah impian lama saya yang terdengar sederhana adalah pengen banget road trip ke Bandung naik mobil. Saya pengen mencari suasana "mudik" keluar kota berjam-jam, melewati tol yang panjang dan tentunya kulineran disetiap kota yang akan saya lewati menuju Bandung. Impian ini akhirnya kami wujudkan diakhir tahun 2025 yang lalu. Persiapannya sederhana (uang tentunya hehehehe...), fisik driver (suami yang ga mau pernah digantiin kalau nyetir) dan kondisi mobil.

Pengeluaran Tol dan BBM Jombang - Bandung - Jombang

Perjalanan ini dimulai dari kota Jombang, bukan dari Surabaya. Kalau dari Surabaya tinggal nambahin aja biaya tol Surabaya - Jombang itu sekitar 77.000. Rincian tol sebagai berikut :

Keberangkatan :

Jombang - Salatiga = Rp. 275.500

Salatiga - Semarang Rp. 53.500

Tol Kalingkung - Tegal = Rp. 195.500

Tegal - Tol Cisamdua Bandung = 122.500

Totalnya 647.000 untuk tol keberangkatan ke Bandung. Kami berhenti kuliner di 2 kota yaitu di Salatiga dan Tegal, setelah itu kami tidak berhenti kekota lainnya langsung ke Tol Bandung. Kalau ditotal Pulang Pergi habisnya sekitar 1.294.000 Lumayan ya :) 

Untul biaya BBM dengan jenis mobil saya yang termasuk irit dengan cc 1500, selama 4 hari di Bandung habisnya sekitar 1.2 jutaan

Hari ke-1 Jombang - Bandung 

Sebelumnya detail perjalanan sudah saya upload divlog saya diarysivika. Perjalanan dimulai pukul 06.30 pagi. Kami sudah niat untuk berhenti kuliner di Warung Bu Yamini dikawasan Salatiga. Tiga jam kemudian kami sampai. Lokasinya sebenarnya nggak terlalu dekat dengan pintu tol karena hampir 5km. Namun karena udah diniatin pengen masakan rumahan khas Indonesia, kita niatin juga kesana.  Menu disini yang terkenal adalah Sop Iganya. Mas suami pesan nasi daging pete, koyor krecek tempe. Lengkap dengan minuman saya habis Rp. 100.000


Untitled

Selesai dari warung sop Bu Yamini, 3 jam perjalanan selanjutnya saya pengen mampir lagi kulineran di Tegal. Kota yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Saya pengen banget nyicipi Soto Tauco khas Tegal, menu yang jarang ada di setiap kota-kota lainnya.

Pilihan saya jatuh pada "Warung Sauto Sedap Malam Pak Daan Jenggot". Lokasinya sekitar 1km dari pintu tol Tegal. Warung makannya terlihat sederhana. Pilihan menu ada Sauto Campur, Sauto Ayam, Sauto Daging dan Sauto Babat yang rata-rata dibanderol Rp. 20.000 an.


Satu kata yang saya rasakan ketika mencicipi Soto Sauto adalah rasanya yang unik. Soto yang menggunakan mangkok ala Soto Kudus ini kuahnya dicampur dengan tauco sehingga ada rasa asam khas Tauco. Enak dan segar...


Untitled
Untitled

Dari Sauto saya mampir membeli Tahu Murni Hj. Siti Rochmah. Tahu Aci khas Tegal ini digoreng dari Tahu Kuning lalu tengahnya dikasih aci dibanderol Rp. 2000/biji. Saya membeli cuma 10 buah karena posisi perut saya sebenarnya kenyang tapi penasaran sama Tahu aci.

Setelah dari Tegal, kami sempat mampir di Rest Area Heritage. Satu jam kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Bandung dan Sampai Bandung jam 19.00.

Sampai Bandung pastinya langsung kulineran yang terkenal yaitu Ayam Wangi Seruni. Beruntung meski ramai, saya nggak menunggu lama antri masuk warung. Kami memesan Ayam Wangi Seruni, Jukut dan minuman cuma air putih. Habisnya 188.000.


Untitled
Untitled

Pesanan kami siap sekitar 45 menitan. Yang pertama kali dihidangkan adalah jukutnya, karena sangking laparnya kami nyemilin jukut seporsi langsung ludes..lalu nambah lagi Jukutnya. 

Ayam Wangi Seruni ini digoreng garing, kremesannya pakai ketumbar. Sambalnya pakai sambal bawang. Meski kremesannya ayam goreng Seruni bukan dari kremesan tepung yang biasanya digoreng garing, namun ketumbarnya yang melimpah malah bikin rasa yang unik. Menurutku nih memang kalau ke Bandung wajib ke Ayam Goreng Seruni. 


Untitled

Untuk charge tenaga beberapa hari kedepan selama di Bandung, dari Ayam Wangi Seruni kami memutuskan langsung check in Hotel.

Liburan long weekend membuat harga hotel melejit naik. The Artha Hotel pilihan penginapan saya selama dua hari di Bandung.  Hotel yang saya incar diantaranya Hay Hotel sudah tidak masuk dibudget trip Bandung kami. Kami akhirnya memilih The Artha Hotel yang dibanderol cuma 400ribuan aja. Hotel bintang tiga yang fasilitasnya sederhana tanpa kolam renang.


Untitled
Untitled
Untitled

Rupanya The Artha hotel ini hotel baru, waktu bulan Desember yang lalu masih semingguan dibuka. Karena kondisinya masih benar-benar baru jadi aroma cat dan interior yang baru masih tercium. Ya menurut saya sih nggak masalah karena hotelnya menurut saya sudah bagus. Meskipun lokasinya ke Braga masih sekitar 4km, kami tidak mempermasalahkan.

Hari ke-2 (Baksi Bintang Asia - Pasar Cihapit - Jalan Ciliwung - Rumah Makan Abah Harja - Kopi Dartoyo - Jalan Braga)

Sebelum ke Bandung saya sudah list cafe-cafe viral yang seliweran ditiktok. Ada Tjilaki 9, Bagelicious, Rochi dan sebagainya. Saya masukin tuh satu-satu cafe dalam itinerary. Di Hari kedua ini saya list cafe pertama yang akan saya kunjungi yaitu Bagelicious. Sampai di kafenya jam 08.00 tepat. Ternyata antriannya udah panjang banget. Kalau saya nalar menunggu antrian bisa sejam lebih berdiri didepan kafenya. Lanjut nggak jauh dari situ saya mau ke Tjilaki 9...waduh antriannya malah ngeri, apalah kaki emak-emak ini yang harus berdiri nunggu masuk pasti nggak bakalan sanggup. Sambil meyakinkan diri...oke besok saya harus datang lebih pagi lagi.

Saya memutuskan jalan-jalan ke pasar cihapit. Langsung tuh kelihatan Bakso Bintang Asia yang lokasinya diujung jalan. Saya lihat reviewnya bagus di google, meskipun banyak yang review terlalu overprice. Kami dipersilahkan masuk setelah antri 20 menitan.


Untitled
Untitled
Untitled
Untitled

Nggak berharap apa-apa dari rasa Bakso, namanya Bakso yah menurutku begitulah... Yang saya harapkan adalah suasana yang berbeda aja dari makan bakso, ya meskipun konsep pecinan yang mirip-mirip kopitiam yang seperti ini juga banyak di Surabaya.

Saya pesan bakso campur pake kwetiau, anak saya mie goreng sapi telur bebek , suami nasi sapi bakar telor ceplok, cireng, gorengan, Es Campur Bintang Asia. Hari itu efek belum sarapan jadi khilaf banget..tunjuk-tunjuk langsung pesan.

Dari semua makanan yang kami pesan, saya akui semuanya enak. Mulai dari bakso yang pentolnya "ndaging" banget, kuahnya ala Bakso Solo yang gurih nggak strong. Lalu Mie anak saya juga enak banget..bumbunya terasa, nggak terlalu bawang dan porsinya gede. Nyicipin juga punya suami...ih enak juga daging sapinya diasap dan wangi. Es Campurnya seger banget.. rasa mangganya terasa dan nggak kemanisan.


Untitled
Untitled

Dari dulu saya penasaran sama Pasar Cihapit karena konsepnya seperti Pasar Klojen dan Pasar Oro-Oro Dowo Malang. Lokasi Bakso Bintang Asia nggak jauh dari Pasar Cihapit. Saya jalan kaki Menuju Pasar Cihapit. 

Pintu masuk pasar Cihapit ini kecil banget. Banyak banget pengunjungnya. Di pintu masuk yang sempit itu rupanya juga pintu keluar pasar. Nah disisi kanannya masih ada penjualnya. Begitu masuk menuju pasar ini udah deh berbaris para pengunjung antri masuk dan keluar. Suasana pasar yang ramai, dan tanpa AC bikin keringat saya mengucur deras. Anak saya udah deh mulutnya semeter bad mood sama suasananya :

Di Pasar Cihapit saya sudah list makanan yang mau saya kunjungi. Diantara kuliner terkenal ada Batagor Kahuripan, Cerita Manis, Warung Bu Erha. Target saya nih pengen batagor kaharipan. Sampai didepan etalasenya, nggak sanggup lihat antriannya...ngeri banget panjang teratur... Ya udah saya balik keluar dari Pasar Cihapit. Untuk kuliner lainnya nggak saya cicipin, karena masih kenyang dari Bakso Bintang Asia


Untitled
Untitled
Untitled
Untitled

Destinasi selanjutnya saya Belanja di Jalan Ciliwung. Pas di Jalan Ciliwung ini, jam masih menunjukkan 09.30. Rata-rata tempat belanja di Jalan Ciliwung baru buka jam 10.00-an. Setelah nungguin didepan toko hampir 30 menitan, saya masuk ke beberapa tempat yaitu ada HGL modest, Shararea Concept, Dama Kara, Tubita, dan Ria Miranda.  Lanjut belanja agak jauhan saya ke kawasan RE. Martadinata ke Factory Outlet andalan yaitu Heritage, sekalian ke Uniqlo juga.


Untitled
Untitled
Untitled
Untitled

Makan Siang kami memilih di Rumah Makan Abah Harja. Antriannya ngeri banget. Saya masuk waiting list entah keberapa. Sambil menunggu perkiraan makan dua jam-an, kami mampir ke Pabrik Kopi Dartoyo yang kalau saya cek lokasinya cuma sekitar 750 meter dari Rumah Makan Abah Harja. 


Untitled

Beberapa ulasan yang direview di google Pabrik Kopi Dartoyo ini direkomendasikan oleh warlok. Saya sendiri nggak berharap banyak dari ulasan di google karena menurutku akhir-akhir ini banyak yang overated, karena rata-rata mencari suasan bukan rasa. Masuk di Pabrik Kopi Dartoyo di daerah Pasar Naripan memang kental dengan jadul dan klasik. Semacam rumah lama yang dikemas dengan sentuhan vintage, bahkan ada penggilingan kopi yang terletak di ujung ruangan.


Untitled
Untitled

Saya memilih Kopi yang banyak direkomendasikan yaitu Kopi Susu Dartoyo request yang tanpa gula. Lalu pendamping sebagai pengganjal perut yaitu Sourdough. Berharap tidak terlalu banyak tentang rasa kopinya..namun ternyata kopinya bukan yang "menye-menye", kopinya masih terasa, tidak terlalu creamy dan yang terpenting saya tidak suka rasa manis yang berlebihan pada kopi..disini rasanya pas. Spesialnya adalah sourdough-nya. Jujur saya baru kali ini makan sourdough. Penampilannya terlihat bantet, dan saya beli karena aroma rotinya kuat banget tercium hingga seluruh ruangan. 

Kalau saya baca-baca roti Sourdough dari hasil fermentasi ragi, teksturnya kalau dari luar terlihat bantet dan alot. Setelah saya coba, ternyata sourdouh itu dalamnya kenyal dan molor.  Saya pilih dua rasa cranberry cheese sourdough dan cream cheese sourdough, diluar ekspektasi malah saya suka banget sama roti ini.


Untitled
Untitled

Sejam ngaso di Toko Kopi Dartoyo, kami kembali lagi ke Rumah Makan Abah Harja. Saya masuk ke tempat pendaftaran waiting list, mengecek sudah urutan ke berapa. Rupanya antrian kami terlewat dari panggilan, aturannya jika terlewat maka akan masuk antrian lagi yang terlewat (bukan daftar awal)...saya menunggu dipanggil masih 30 menitan. Benar-benar butuh kesabaran makan di Rumah Makan Abah Harja. Nggak nyalahin mereka sih, memang suasana long weekend harus sabar.


Untitled
Untitled
Untitled

Nah pake logika mumpung kita khilaf banget makan di Abah Harja. Pesanan kami 1 ekor ayam kampung bakakak (Rp. 135.000) dan 1/2 ekor ayam kampung lengkuas (Rp. 170.000), Nasi Tutug Oncom, nasi Putih, Petai, Perkedel Jagung dan Jukut. Sambalnya bisa pilih ada 4 macam rasa, kami memilih yang sambal terasi dan sambal bawang.

Ayam kampung bakakak merupakan ayam kampung yang dibakar dan ayam goreng lengkuas dari ayam kampung di goreng pakai kremesan lengkuas. Saya coba ayamnya memang empuk, wangi dan sambalnya yang bawang enak banget. Apalagi pendampingnya jukut makan nikmat. Saya juga suka perkedel bakwannya crispy. Dibandingkan sama ayam seruni saya lebih suka rasa ayam abah harsa. Ya semua kembali ke selera.


Untitled
Untitled
Untitled

Dari Abah Harja, kami sempat balik ke hotel untuk istirahat dan setelah maghrib ke Jalan Braga.  Rasanya nggak afdol ke Bandung tanpa ke Jalan Braga, meskipun suasana jalan Braga sangat ramai pengunjung. Sebenarnya saya juga bingung mau ngapain ke Jalan Braga karena biasanya ke Braga tujuannya buat makan, namun kondisi perut kami sangat kenyang nggak memungkinkan jika makan yang berat. Kami nyemil tipis tapi tetap berkalori hehehehehe... Makan ice cream di Sweet Cantina dan Ngopi acak di Sawo Coffee and Roastery.


Untitled
Untitled
Untitled
Untitled
Untitled
Untitled
Untitled
Bandung

Hari ke-3

Dihari ke-tiga niat hati kami pengen leyeh-leyeh nggak terlalu full aktivitas. Namun kami kepikiran seenak apa sih Bagelicious ituh, apakah karena hanya viral lalu ramai ataukah benar-benar enak. 

Bagelicious buka jam 07.00 pagi. Saya ke sana sekitar 30 enit sebelum dibuka. Antrian sudah banyak tapi nggak seramai kemarin karena masih pagi. Butuh sekitar 45 menitan saya berdiri antri sambil berdiri. Antrian dibedakan antara dine in dan take way.


Untitled
Untitled
Untitled
Bandung

Masuk ke dalam tampak jejeran bagel. Saya teringgat display bagel yang lagi happening di Korea. Mungkin kafe ini mengusung konsep yang sama dengan Korea. Entahlah per-rotian memang lagi ngehip tahun-tahun ini seperti sourdough, bagel, croisant. Kalau saya baca di google, adonan bagel itu spesial karena meski mirip donat yang tengahnya ada cincinya namun adonan bagel direbus dulu dalam air mendidih makanya ada rasa jenyalnya. 

Harga Bagel mulai dari 25 ribu hingga 45 ribu. Saya memberikan kode ke suami ke anak saya, harus ambil yang harga 35 ribu kebawah dan cari yang best seller. Nggak dipungkiri karena lama antri pasti akan khilaf. Saya ambil 5 pilihan bagel rasa Cranberry with creamcheese filling, Korean Garlic Cream Cheese (34 ribu), Mochi Coffee Bagel (35rb), Cranberry (25rb), Chocochips Soft (25rb).


Untitled
Untitled
Untitled
Untitled
Untitled
Untitled
Bandung

Setelah ambil bagel lalu langsung melakukan pembayaran. Bagel dan minumannya akan diantar dimeja sesuai nomor yang ditentukan oleh waitres sewaktu masuk ke ruang Bagelicious. Semua Bagel diangetin dulu sebelum dihidangkan. 

Awalnya berkomitmen untuk tidak khilaf tapi ternyata ambilnya juga 5 bagel hahahahaha. Sewaktu dihidangkan baru sadar gede-gede banget. Untuk sharing aku potong-potong biar kami keluarga paket hemat yang cuma 3 biji ini bisa merasakan semua rasa. Rasa Bagel di Bagelicious ini masuk kategori enak banget....aku pernah nyicipin di Korea namanya Bagel London Museum, nggak jauh beda sama Bagelicious. Malah yang bikin enak di Bagelicious diangetin dulu. 


Untitled
Untitled
Untitled

Karena Bagelnya masih sisa aku bungkus, malamnya sewaktu pulang perjalanan dari Lembang aku cemilin, rotinya tetap nggak alot masih chewy.

Dari Bagelicious aku menuju Batagor Haji Yunus. Kenapa kok nggak pilih Kingsley atau Batagor Riri? karena aku udah pernah coba keduanya. Dua Batagor mahal itu memang enak banget tapi sengaja aku skip dan memilih yang agak murah di Batagor Haji Yunus. 

Perjalanannya menurutku agak jauh dari Pusat Kota. Rumah makannya sederhana. Hanya beberapa meja saja yang terisi kala itu. Seporsi Batagor seharga Rp. 6.000 dan Aci Rp. 6.000. Kami memilih 2 Batagor, Aci dan Pangsit. Kuah sambal kacangnya pekat dengan rasa kacang yang sangat kuat dan cincang kasar. Menurutku rasanya nggak jauh beda sama langgananku yang biasanya dijual digerobak, hanya saja kuah sambalnya yang bikin beda.


Bandung
Bandung

Sebenarnya ke Bandung kali ini kami nggak ada rencana untuk ke Lembang. Dulu kami pernah ke Lembang masih ingat macetnya dan jalannya terlalu sempit. Tapi kok rencananya jadi berubah karena sepertinya nggak memungkinkan kapasitas perut kalau hanya diisi kulineran saja di Bandung, sedangkan tempat wisata Bandung ya begitu-begitu aja karena lebih menarik kulinerannya. Singkat cerita kami memutuskan ke Gias Grange.

Gias Grange ini semacam taman bunga yang ditengahnya ada kafenya. Perjalananbya ketempat ini memakan waktu 1,5 jam. Alhamdulilah udara di Lembang nggak begitu panas, mendung dan sejuk. Kami masuk dengan membeli tiket seharga Rp. 20.000/orang untuk masuk ke Taman Bunganya. Kalau hanya ke kafenya tidak perlu bayar. Saya juga langsung ambil paket untuk foto biar langsung difotoin fotografernya. Ngisi buku dulu dipendaftaran, saya masuk beberapa waiting list untuk foto
Untitled


Untitled
Untitled
Untitled
Untitled

Untuk Gias Grange sebaiknya update kepoin IGnya karena setiap musim bunganya beda-beda. Takutnya kalau nggak liat IGnya pas lagi gundul bunganya. Waktu itu musim Pikok putih dan ungu, marigold kuning dan bunga matahari. Emang cantik banget sih. Suasananya sama persis dengan IGnya. Cuma ya gitu kalau nggak pake jasa fotografer kayaknya susah kalau lagi musim liburan karena ramai banget pengunjung.


Untitled
Untitled
Untitled
Untitled

Dari Gias Grange, saya juga sempatin ke Karsa Land sekalian sholat dan cari oleh-oleh Kartika Sari. Ke Karsa Land ini kami sengaja ngaso, beli camilan sekalian nyemilan di area tempat duduknya. 


Untitled
Untitled
Untitled
Untitled

Untuk makan malamnya saya sekalian dari Lembang, jadi nggak istirahat dulu di hotel. Kami memilih Soto Tangkar dan Gepuk Haji Jayadi. Sengaja saya pilih kuliner yang nggak lagi fomo karena kondisi lapar dan males antri. Tapi tetap aja karena liburan long weekend kami masuk waiting list ke-tiga. Untungnya nggak terlalu lama kami menunggu.


Bandung

Mungkin yang belum tahu soto tangkar itu apa? saya jelasin sedikit ya. Soto Tangkar merupakan makanan khas Betawi berupa soto dengan kuah santan pakai iga sapi. Isinya full kolesterol ya karena ada iga, daging sapi dan jeroannya. Menurutku rasanya memang berbeda dengan Soto Betawi, karena Soto Tangkar menggunakan santan bukan susu.

Saya dan suami pilih Soto Tangkar yang lengkap dengan Gepuk Bakar seharga Rp. 40 ribuan. Anakku Nasi Goreng Sapi. Sesuai ekspektasi dan yang saya baca di google, Soto Tangkar ini jadi list wajib ketika kalian ke Bandung. Kuahnya gilaaa gurih, rempah dan santannya terasa dan empalnya juga gede. Sayangnya saya pesan sate marangginya habis, padahal saya penasaran. Si Nay pesan nasi gorengnya juga enak banget, rempah dan aroma wangi daging sapinya beda sama nasi goreng dekat rumah yang 15 ribuan.


Bandung

Kuliner di Soto Tangkar dan Gepuk Haji Jayadi menjadi penutup kuliner di hari ketiga, kami harus Pindah Hotel karena pengen suasana lain di Fulmar Dago seharga sejutaan. Tapi kalau disuruh pilih lagi saya akan pilih hotel The Arta karena sejuta sudah dapat 2 malam dan lokasinya didekat kota.

Saya pilih kawasan Dago karena pengen tau suasana malam di kawasan yang lebih tinggi di Bandung. Hotelnya menurutku ya standart hotel bintang dua. Mahal karena long weekend aja. Hanya saja yang saya suka ada rooftopnya. Malam-malam saya pesan kopi yang katanya dupenya Tuku yaitu Makmur Jaya ternyata sama loh enaknya. 


Bandung
Bandung
Bandung
Bandung
Bandung

Hari ke-4 

Di hari ke empat ini sekaligus kami harus balik dari Bandung. Sarapan kami agak berat yaitu di Warung Bu Imas. Restaurant yang banyak direkomendasikan para artis yang datang ke Bandung. Sangking terkenalnya satu area di Jalan Balonggede ada tiga tempat di Nomor 69, 48 dan 93. Kami datang pagi banget jam 07.00 an dan alhamdulilah sepi. 

Saya nggak pesan aneh-aneh cuma ayam goreng dan ayam bakar, jukut (wajib) pesan double, tempe, paruh, pete andalan suami. Deretan lauk yang dipajang memang menggiurkan, saya tahan untuk kekhilafan kali ini. 


Untitled
Untitled
Untitled

Penasaran kan sambal dadak itu apa? sambal dadak itu dadakan dalam bahasa Sunda. Kayak sambal mentah dengan bawang putih yang kuat. Nah didalamnya sambal tuh ada kayak sayuran bulat warna hijau. Saya browsing ternyata itu leunca muda berwarna hijau, kalau matang jadi ungu. Saya nggak menemukan istilah jawanya, mungkin juga satu ras sama terong. Kayaknya kalau sambal ala Lamongan atau Suroboyoan nggak pernah ada leuncanya.


Bandung

Hampir tiap hari kami makan ayam goreng ala Sunda, versi saya nih pemenangnya adalah ayam yang ada di Abah Harja. Semua ayam yang saya cicipi di bandung tuh memang enak-enak, namun setiap restaurant wangi ayamnya beda-beda. Kalau Jukut saya lebih suka di Ayam Wangi Seruni

Pulang dari Bu Imas sebagai bekal perjalanan saya beli Kopi Makmur Jaya. Alhamdulilah perjalana pulang kami tempuh selama 10 jam.


Untitled
Untitled
Untitled

...

Estimasi PP dengan kecepatan wajar di Bandung sekitar 2.500.000 untuk perjalanan PP. Hotelnya sekitar 2 jutaan untuk 3 malam. Kalau bukan long weekend pasti lebih hemat. Kuliner dan wisata mungkin optional ya tergantung masing-masing.